Istri Super Jorok
Dia masuk, duduk di tepi ranjang, kuambil jarak yang agak jauh, mengantisipasi bau yang bisa mengacaukan pikiran dan rencanaku.
"Lihat tanganmu?"
Dia mengangkat tangannya, kukunya sudah terpotong pendek, pada dasarnya dia memiliki kulit dan jari yang bagus, jari-jarinya runcing dan lentik.
"Menurutmu, apa itu pernikahan?" tanyaku, Marni terlihat kebingungan. Beberapa detik menunggu, akhirnya dia bersuara juga.
"Pernikahan seperti ayah dan ibuku. Beliau selalu bersama ke mana pun, tak pernah bertengkar, saling menyayangi satu sama lain, saling pengertian."