MERTUA IDAMAN
Rini yang tengah menata rambutku pun menimpali.
“Mana mau seorang mertua menerima kehadiran orang lain dengan tulus? Gak ada. Yang ada nanti kamu diperlakukan seperti pembantu. Pagi-pagi buta harus setor muka, ada paket datang dikira boros, terus ... lagi nyantai dikira malas. Aku sampai ngontrak saking lelahnya.” Kali ini ucapan itu datang dari Hela. Sambil menyapukan bedak di wajah, mulutnya dengan lincah berjoget ria menakuti diriku sejak tadi sambil menceritakan kisah hidupnya.
“Gak semua mertua begitu. Ada juga yang baik, kok. Aku yakin kalau mertuaku akan bersikap baik,” ujarku mencoba menenangkan hati.