Rayuan Maut Para Tetanggaku
Aku tidak tahu apa yang menantiku di Marunda, tapi satu hal yang pasti: siapapun yang berani menyentuh orang-orang yang kucintai, mereka baru saja menandatangani surat kematian mereka sendiri.
Baru saja aku hendak melangkah keluar, ponselku bergetar.
Sebuah foto dikirim dari nomor tak dikenal.
Foto Mas Putra yang terikat di sebuah kursi dengan luka lebam di wajahnya, dan sebuah pesan singkat: "Bawa keris itu ke Marunda jam 12 siang ini, atau temanmu ini akan jadi konten live streaming kematian pertamamu."
Gairah untuk bertarung kini membakar habis sisa-sisa ketenanganku.