MENGEJAR CINTA TUKANG KAYU TAMPAN
Bau serbuk kayu memenuhi udara, tajam dan akrab, berpadu dengan aroma logam panas dari mesin pemotong.
Liam masih di sana, bertelanjang lengan, keringat menetes dari pelipisnya, menuruni rahang tegasnya yang kini sedikit berdebu. Di tangannya, mesin gergaji bergetar berat, memotong balok kayu besar menjadi dua bagian. Potongan serat halus beterbangan di udara, menempel di kulitnya, di rambut cokelatnya yang agak basah.
Baginya, ini bukan pekerjaan kasar, ini semacam meditasi.