Waktu pertama kali aku nyoba bikin sate buat acara kecil di rumah, aku nyaris gagal karena tusuknya gampang gosong dan dagingnya lepas saat dibalik. Dari situ aku mulai eksperimen berbagai jenis kayu dan logam, dan pelan-pelan tahu apa yang cocok buat kebutuhan restoran yang sibuk.
Kalau mau praktis dan ekonomis, tusuk bambu itu juaranya: murah, sekali pakai, gampang dapet, dan kalau mau nampilin presentasi yang rapi ambil yang model datar (flat) — makanan nggak gampang muter. Satu catatan penting, rendam bambu 30–60 menit sebelum dipanggang supaya nggak gampang terbakar di grill. Untuk potongan daging tebal atau sate besar, pilih bambu yang lebih tebal atau tusuk kayu keras seperti beech atau maple; kayu keras ini tahan panas lebih lama dan nggak cepat rapuh.
Kalau restorannya sering masak di atas bara atau ingin produk yang tahan lama, pertimbangkan tusuk logam stainless steel yang datar — bisa dipakai ulang, mudah dicuci, dan aman untuk oven maupun grill. Hindari kayu lunak atau yang diberi bahan kimia (pressure-treated) karena bisa meleleh atau ngasih rasa aneh. Juga hati-hati dengan kayu beraroma kuat seperti cedar atau mesquite: mereka bisa memberi aroma, tapi juga bisa terlalu kuat dan berisiko bagi beberapa tamu.
Intinya, sesuaikan pilihan dengan menu dan alur kerja: bambu datar yang direndam buat sate biasa, kayu keras kalau mau sekali pakai tapi kuat, dan stainless untuk yang reusable. Aku biasanya stock ketiganya supaya fleksibel — tergantung acara dan bahan baku yang dipakai.