Menuju Matahari
“Sepertinya memang bukan bidangku saja. Ya bisa sih sedikit-sedikit, tapi perkembangannya terlalu lamban. Apalagi memimpikan bisa mencapai tataran Kakangmas Pangeran. Wah, jauh!”
“Lalu kau menemukan bahwa bakatmu ada di bidang ular-ularan?”
Ningrum tersenyum. “Iya. Suatu saat aku digigit ular senduk, karena tak sengaja menginjaknya waktu sedang latihan lari jarak jauh. Kupikir aku akan mati, ternyata tidak. Hanya sakit sebentar, tapi sama sekali tidak apa-apa. Begitu juga ketika aku digigit ular-ular berbisa jenis lain. Ular hijau, ular weling, tidak berakibat apa-apa padaku.”