VENDETTA
Amarahnya terkikis oleh rasa pasrah melihat kepolosan Rani yang tidak tahu apa-apa tentang dosa dan ambisi orang tuanya.
Meskipun demikian, dinding pembatas itu belum sepenuhnya runtuh. Rahma hanya diam memerhatikan dari jarak satu meter. Dia tidak bergerak mendekat, tidak pula mengulurkan tangan untuk mengelus rambut tipis Rani, apalagi mengecup pipi gembilnya layaknya kehangatan seorang ibu sejati pada umumnya. Hubungan batin itu masih terasa dingin dan kaku, tertahan di antara rasa tanggung jawab, rasa bersalah, dan ego wanita yang belum sepenuhnya damai dengan takdir hidupnya sendiri.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Chapitres populaires