Penyamaran CEO Tanaka
Ia duduk di kursi kayu kecil di samping jendela.
Dari kejauhan, suara azan subuh terdengar samar, diikuti bunyi air hujan yang tersisa di genting.
Ia merasa tenang. Aneh, tapi tenang.
Lalu tiba-tiba pikirannya melayang pada kalimat Maya semalam.
"Terima kasih sudah nganter, Ardi. Maaf jadi merepotkan."
Sederhana, tapi tulus.
Sebuah kalimat yang lebih berarti daripada pujian apa pun yang pernah ia terima dari dunia bisnisnya.