Menulis Ulang Takdir
Setiap kenangan indah yang pernah mereka bagi—tawa, canda, dan mimpi-mimpi yang tampaknya tak terpisahkan—sekarang terasa seperti ilusi yang penuh derita.
Dengan langkah gontai, Lyra berjalan tanpa arah. Menyusuri trotoar ibu kota yang masih disibukkan dengan para pejalan kaki meski malam kian larut. Dia ingin pulang, dia ingin tidur di kamarnya, di ranjangnya yang hangat dan berharap bahwa semua yang dilalui hari ini, hanya mimpi belaka. Tetapi, dia sudah tidak punya rumah. Orang tuanya sudah tiada, meninggalkan warisan yang dengan bodohnya, Lyra tidak tahu cara mengelolanya, sehingga semua habis dan berakhir dia ditipu oleh dua orang kepercayaannya.