BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR
dari Parombunan telah merusak logika mereka sedemikian rupa, hingga mereka menganggap para bandit gunung itu akan melakukan hal-hal yang lebih mengerikan daripada sekadar merampok harta.
Para bandit Martinju terus tertawa terpingkal-pingkal sambil mengumpulkan tumpukan pakaian, sepatu, dan senjata. Bagi mereka, ini adalah hari keberuntungan yang takkan pernah terulang. Sementara bagi Kota Sibalga, ini adalah aib sejarah yang paling kelam; dikalahkan oleh teknologi rahasia sebuah desa kecil, lalu ditelanjangi oleh sekumpulan bandit di tengah jalan.