Bunga Ilalang, Mahkota perawan desa
Aku pun mau nggak mau bangun, menuruti ajakan Dinda.
"Yakin, Syahdu, kamu nggak pa pa? Perutmu?" Aku menggeleng sambil merapikan rambutku.
"Anak Ayah mo jajan apa, sih?" tanya Mas Banyu sambil jongkok di depan Dinda dan mencubit hidungnya karena gemes.
"Ehm ... Pelmen."
"Eh, nggak boleh! Dinda nggak boleh jajan permen. Nanti ompong kayak embah uyut. Jajan kue aja, ya." Mas Banyu mengacak poni Dinda.