NODA
Diraihlah jemariku dan dalam sekejap cincin permata itu terselip di jari manisku.
"Thanks."
Tak ada kecupan di tangan ataupun pipi seperti adegan lamaran yang ada di drama- drama romantis yang pernah aku lihat. Hanya sebatas bangkit dan mengusap kepalaku dengan senyuman tulus, itu saja, karena kita ... belum mahram katanya.
"Satu hal lagi," sambungnya.
"Apa?"
"Saya mau jangan ada lagi kata saya, Anda, dan juga ... Dokter, karena kamu bukan pasien."