BUKIT TENGKORAK
“Biarkan saja. Jalan terus jalan. Kami memang dikirim untuk mati!”
Tentara Belanda itu berlari lebih kencang dan Bulan mengayuh sepeda lebih cepat hingga tak terdengar lagi suara letusan peluru. Ketika sudah agak jauh baru mereka berhenti dan menenangkan diri sejenak.
“Namaku Anderson, Nona.” Lelaki itu mengulurkan tangan. Ia terpesona pada pandangan pertama pada Bulan.
“Aku Bulan, maaf kita tak boleh bersentuhan. Terima kasih sudah menolongku, Tuan, kupikir Belanda bedebah semua!” ketus gaya bicara Bulan pada penjajah.