ISTRIKU KUYANG
Perih memikirkan nasib rumah tanggaku.
"Maafkan Ayah, Nak. Sebenarnya Ayah sangat menyayangimu. Bagiku kamu menantu yang Ayah idam-idamkan. Itulah mengapa Ayah merahasiakan jati diri Arini," sesal Ayah.
"Sekarang pergilah sebelum fajar tiba, biasanya saat seperti itu Arini dan Ibunya pulang," lanjut Ayah lagi.
Aku mengangguk pelan dan berkata," baik Ayah, terimakasih banyak untuk kebaikan Ayah," jawabku tulus.