Raina
“Iya, Nong.”
“Otak sama perasaan itu harus balance. Kalo cuma ngandelin otak, perasaan lo bakal sakit. Dan kalo cuma ngandelin perasaan, itu cinta buta. Bego namanya. Waktu gak bakal bisa nentuin kalau bukan kita sendiri yang memutuskan.” Ghina menasehatiku tanpa segan.
“Iya, Nong. Iya. Sorry karena selama ini gue plin-plan,” ringisku merasa bersalah. Selama ini Ghina menjadi tempat keluh kesahku, jadi pantas kalau dia mulai jengah dengan sikapku.
Hot Chapters