Bias Cinta
“Ruang kosong ini bisa buat santai dan langsung tembus balkon. Gimana? Suka?”
“Emm …” Dinda berjalan perlahan menyusuri setiap sudut lantai dua. “Suka, sih, Mas. Tapi … beneran ini harganya disesuain sama bajetku?”
“Beneran, aku serius.”
“Aku, kan, jadi enak, Mas,” ucap Dinda sambil membuka pintu balkon dan terkekeh.
Altaf tertawa pelan. Ia menyusul Dinda yang sudah berada di balkon, berdiri di sampingnya.