Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali

Di Ujung Kabut Itu, Dia Tak Kembali

Di tahun ketiga pernikahan Marissa Pranaya dan Arka Kivandra, ada sebuah kabar baik. Akhirnya, Marissa bisa meninggalkan laki-laki itu. "Satu bulan lagi kakakmu akan pulang. Selama sebulan ini, teruslah berpura-pura menjadi dirinya dengan baik." Di ujung telepon, suara Bu Elvira Pranaya terdengar dingin seperti biasanya. "Setelah semua ini berakhir, aku akan kasih kamu 60 miliar, agar kamu bisa menjalani hidup yang kamu mau." "Aku mengerti," jawab Marissa pelan, suaranya tenang bagaikan air yang tiada bergelombang. Setelah menutup telepon, Marissa menengadah, menatap foto pernikahan berukuran raksasa yang terpajang di dinding.
12.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 437 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Kepura-puraan yang Berujung Kejutan

Kepura-puraan yang Berujung Kejutan

Dalam perjalanan merayakan ulang tahun anakku, aku mengalami kecelakaan mobil. Saat terbangun, aku melihat anggota keluarga mengelilingi ranjang rumah sakit, lalu aku bercanda, "Maaf, kalian siapa?" Aku menahan tawa, ingin melihat bagaimana mereka akan menghiburku, si "pasien amnesia" ini. Apakah ibu dan suamiku akan menggenggam tanganku dengan penuh kasih? Atau anakku akan menerjang sambil menangis memanggil Mama? Namun aku tidak menyangka, mereka malah tertegun sejenak, lalu sama-sama menghela napas lega. Ibuku yang pertama kali berbicara, suaranya terdengar lega, "Bagus juga kalau lupa. Sebenarnya kamu cuma anak angkat Keluarga Kurniawan. Bella-lah putri kandung Keluarga Kurniawan yang sebenarnya." Suamiku juga menunjuk ke arahku, lalu berkata pada anak kami, "Kamu seharusnya panggil Tante." Belum sempat aku pulih dari keterkejutan, kulihat anak yang selama ini kulindungi mati-matian, menoleh dan langsung berlari memeluk putri palsu itu. "Mama! Aku seharian tadi main di luar, kangen sekali sama Mama!" Ternyata, amnesia ini malah persis seperti yang mereka harapkan. Kalau begitu, semua yang palsu ini, tidak perlu lagi dipertahankan.
3.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 103 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan

Sarung Tangan, Permata, dan Penyesalan

Di hari ulang tahunku, tunanganku menukarkan poin supermarket untuk membelikanku sepasang sarung tangan cuci piring. Namun, di lelang, dia menawar paling tinggi demi membelikan permata seharga 10 miliar untuk cinta pertamanya. Aku marah, tetapi dia justru menuduhku sebagai perempuan materialistis. "Aku kasih kamu uang buat dipakai, bukannya sudah sewajarnya kamu melayaniku? Ini sebenarnya ujian terakhir yang mau aku kasih sebelum nikah. Kalau kamu lulus, kita nikah. Tapi kamu benaran bikin aku kecewa." Aku mengajukan putus, dan dia langsung berbalik melamar cinta pertamanya. Lima tahun kemudian, kami bertemu kembali di sebuah pulau liburan pribadi. Kevin melihatku mengenakan pakaian kerja sambil memungut sampah di pantai, lalu langsung melontarkan ejekan. "Celine, dulu kamu remehin sarung tangan yang kubelikan, sekarang malah mungut sampah di sini." "Sekarang, sekalipun kamu mohon agar aku nikahi kamu, aku nggak akan melirikmu lagi." Aku tidak menanggapinya. Pelajaran praktik sosial putraku berjudul membersihkan halaman belakang rumah bersama orang tua. Ayahnya memperluas halaman sampai ke tepi pantai, membersihkannya sungguh melelahkan.
2.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 59 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis

Hubungan yang Dipaksakan Tidak Pernah Manis

Saat sahabatnya menjemputnya di bandara, Alesha Bahri sedang memeriksa berkas perceraian. "Video lomba debat kamu dan Austin dulu sudah viral!" ucap Kayla dengan wajah berseri-seri. "Kata netizen, kalian cakepnya kelewatan. Mereka juga nggak berhenti tanya kelanjutannya di kolom komentar dan pada nge-ship kalian!" Tangan Alesha yang menggulir layar terhenti sejenak. Kayla yang sama sekali tidak menyadari keheningan Alesha lanjut berbicara, "Lalu, beberapa alumni muncul untuk kasih penjelasan. Kata mereka, sebagai pihak lawan, kamu malah berani menggoda pria tak terjangkau di fakultas hukum secara terang-terangan. Hal itu langsung buat kamu terkenal." "Seingatku, waktu kalian berdua pacaran, forum kampus sempat heboh. Semua orang merasa kamu sudah menyabet pria idaman semua orang. Alhasil, Austin langsung melamarmu dan buat orang-orang yang nunggu buat ngetawain kamu malu ...."
595 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 20 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Kini, Aku Belajar Melepasmu

Kini, Aku Belajar Melepasmu

Anak yang Vanya Baskara besarkan dengan penuh kasih sayang selama enam tahun, justru dengan tangannya sendiri melemparkan Vanya ke dalam kandang penuh anjing Mastiff Tibet yang buas. Setelah satu malam yang mencekam berlalu, Vanya tergeletak sekarat di sudut kandang. Belasan luka bekas gigitan merobek dagingnya, meninggalkan rasa sakit yang luar biasa hingga Vanya hampir tak mampu bernapas. Di luar jeruji, Haris Mahesa berdiri di atas tangga, menatapnya dari ketinggian dengan penuh penghinaan. Sepasang mata hitam yang sangat mirip dengan milik Gilang Mahesa itu, kini hanya menyisakan tatapan dingin dan kebencian yang mendalam.
4.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 124 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Yang Disebut Cinta Justru Menyakiti Paling Dalam

Yang Disebut Cinta Justru Menyakiti Paling Dalam

Elric sekali lagi membawa Viera menghadiri pesta ulang tahunku. Dia merangkul pinggang wanita itu sambil memperkenalkannya kepada para tamu, "Ini sahabat terbaik Solana, sekaligus rekan kerja terbaru Grup Zubir, perusahaan keluarga Solana." Jari-jariku yang menggenggam gelas sampanye memutih. Minggu lalu, Viera baru saja merebut proyek yang sudah kutangani selama tiga tahun. Elric mendekat ke telingaku dan berbisik, "Sayang, kamu harusnya berterima kasih padaku. Aku sudah membantumu menjaga persahabatan berharga ini." Belakangan, Viera memakai perhiasanku untuk menghadiri jamuan amal, menggunakan penata rias pribadiku, bahkan mewakili Grup Khadam, perusahaan keluarga Elric, dalam rapat pemegang saham. Di hari berburu keluarga, Elric membiarkan Viera menunggangi kudaku. Dia sendiri yang menyesuaikan sanggurdi untuknya, lalu berkata kepadaku tanpa mengangkat kepala, "Kemampuan berkudamu buruk, jangan menghambat semua orang." Aku berdiri di pinggir lapangan, menyaksikan mereka berdua melompati rintangan berdampingan. Para tetua Keluarga Khadam tersenyum sambil memuji, "Viera dan Elric benar-benar serasi." Saat perjalanan pulang, hujan deras mengguyur tanpa ampun. Tak seorang pun ingat kalau aku tidak punya kendaraan. Elric hanya mengirim pesan. [ Cari jalan sendiri, jangan merusak suasana. ] Aku melepas cincin tunanganku, lalu membalas. [ Oke. ] Saat layar ponselku menyala, air hujan sedang menetes turun melewati bulu mataku. Tiba-tiba, muncul pesan dari Diego. [ Dulu ... kamu terima surat cinta itu nggak? ]
894 DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 33 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Ditinggal di Pelaminan

Ditinggal di Pelaminan

Pada hari pernikahan, pacarku terang-terangan kabur dari pernikahan demi menemani sahabat masa kecilnya yang hamil di luar nikah, melahirkan. Seiring dengan tatapan mengejek para tamu undangan, aku melepas tudung pengantin dan pergi ke rumah sakit, menuntut penjelasan darinya. Namun aku justru melihatnya menggendong bayi yang baru dilahirkan sahabatnya itu, dengan penuh kasih di matanya. Sahabatnya sengaja bertanya, “Kak Candra, hari ini kan hari pernikahanmu. Kamu datang menemani aku melahirkan, bagaimana kalau Feli marah?” Kemudian Candra menjawab, “Pernikahan bisa diadakan kapan saja. Tapi soal kamu melahirkan, aku tidak bisa tenang kalau kamu sendirian di rumah sakit.” “Mulai sekarang aku adalah ayah dari anak ini, aku tidak akan biarkan siapa pun mengganggu kalian berdua.” Beberapa waktu kemudian, ketika aku memilih menikah dengan orang lain, Candra justru menerobos masuk ke pernikahanku seperti orang gila, memohon agar aku memberinya satu kesempatan lagi...
3.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 127 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Semangkuk Bubur Menyadarkan Betapa Tidak Layaknya Suamiku

Semangkuk Bubur Menyadarkan Betapa Tidak Layaknya Suamiku

Setelah berhasil menegosiasikan proyek senilai 200 miliar untuk perusahaan, aku bersiap menerima bonus 600 juta untuk mengganti mobil baru. Namun, suamiku yang seorang presdir, Xavian, malah datang membawa semangkuk bubur hangat dan slip gaji dengan angka nol di depanku. "Maaf ya, Sayang. Kerugian perusahaan benar-benar terlalu besar. Anggap saja bubur yang kubuat ini hadiah karena kamu berhasil dapatin proyek itu. Kalau kondisi keuangan perusahaan membaik, aku pasti beliin kamu mobil baru." Tak lama kemudian, aku melihat unggahan di media sosial adik kelasnya, Astrid. Suamiku yang biasanya sangat pelit ternyata bukan hanya memberikan bonus khusus 600 juta kepadanya, tetapi juga menghadiahinya sebuah BMW baru senilai 400 juta. [ Performa kerja jelek juga nggak apa-apa. Kakak kelasku pasti tetap manjain aku habis-habisan. ] Jadi ternyata, tidak punya uang hanyalah kebohongan suamiku karena dia tidak rela mengeluarkan uang untukku. Aku tidak marah ataupun membuat keributan. Aku hanya diam-diam memberi like dan komentar pada unggahan itu. [ Semoga langgeng. ] Tak lama kemudian, telepon dari Xavian masuk. Nadanya panik saat menjelaskan, "Jangan salah paham. Ibunya Astrid kena kanker, jadi aku kasih bonus khusus itu demi hubungan lama kami." "Mobil itu juga kubelikan supaya dia lebih mudah bolak-balik rumah sakit dan mengurangi waktu perjalanan, jadi dia bisa bekerja lebih baik. Semua ini kulakukan demi kepentingan perusahaan." "Gara-gara komentar sembaranganmu, semua orang jadi salah paham dan ngira Astrid pelakor. Cepat hapus komentarnya dan jelaskan semuanya. Soal bulan madu yang selama ini kamu minta, aku bakal bawa kamu pergi kok." Aku merobek slip gaji bertuliskan angka nol besar itu sampai hancur berkeping-keping. "Nggak jadi pergi. Lebih baik langsung urus perceraian di pengadilan negeri."
2.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Ketika Kebohongan Menjadi Takdir

Ketika Kebohongan Menjadi Takdir

Istriku dinyatakan hilang akibat kecelakaan saat bermain ski. Tiga bulan kemudian, aku malah melihatnya di sebuah bar. Dia sedang bersandar di bahu sahabat laki-lakinya sejak kecil dan tertawa lepas, “Untung kamu kasih ide ini. Kalau nggak, aku hampir lupa rasanya bebas itu seperti apa.” Teman-teman dan sahabat perempuan di sampingnya terus mengangkat gelas, bersulang dengannya sambil bertanya kapan dia akan muncul kembali. Dia menunduk dan berpikir sejenak, “Mungkin seminggu lagi. Tunggu saja sampai dia benar-benar hampir gila mencariku, baru aku muncul lagi.” Aku berdiri di tempat yang gelap, memperhatikan bagaimana dia menikmati kebebasannya. Lalu aku mengeluarkan ponsel dan menelepon seorang temanku yang bekerja di bagian administrasi dukcapil.
5.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 113 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Saat Lilin Menyala, Cinta Padam

Saat Lilin Menyala, Cinta Padam

Pada pernikahan tahun keenam, suamiku sudah tidak menyentuhku selama tiga bulan. Dia mengatakan bahwa dirinya sangat kelelahan karena sibuk bekerja. Aku yang merasa kami sudah saling mencintai selama bertahun-tahun pun memercayainya tanpa ragu. Namun, pada hari ulang tahunku, aku malah mendengar teman suamiku bertanya padanya dalam bahasa asing, “Kamu sudah putus hubungan sama selingkuhanmu itu? Sebelumnya, kamu pergi cari dia setiap hari. Entah tubuhmu tahan atau nggak. Apa istrimu nggak keberatan kamu begini?” Suamiku mengembuskan asap rokok, lalu menjawab dengan acuh tak acuh, “Aku sudah nggak sentuh dia selama beberapa bulan. Sallie punya teknik yang bagus. Aku masih belum bosan. Sayangnya, dia hamil. Istriku nggak suka anak. Jadi, aku akan kasih Sallie sejumlah uang dan suruh dia pergi lahirkan anaknya di luar negeri beberapa saat lagi.” Aku mengepalkan tanganku dan diam-diam meneteskan air mata. Suamiku pun bertanya aku kenapa dengan gugup. Namun, aku hanya menggeleng. “Kue buatanmu enak banget. Aku sangat terharu.” Kue itu sangat manis. Namun, aku yang mengerti bahasa asing yang mereka gunakan merasa sangat getir.
13.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 555 kali sebagai pancaran kasih
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
1920212223
...
50
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status