KAU MENDUA AKU PUN SAMA
“Maafkan Paman, Naira,“ bisiknya bergetar, tepat di telingaku.
Aku terdiam, menatapnya bingung saat dia melepas rengkuhannya. Lalu tak lama, Mbal Madina—sepupuku yang entah sejak kapan menjadi maduku—mendekati kami dan mengedarkan pandangannya sesaat. Sementara di belakangnya, Bibi Tanti menatap kami dengan sorot yang sulit dipahami.
“Maaf, kalau boleh Dina ingin bicara empat mata dengan Naira,“ katanya.
“Tidak usah, Sayang. Nanti biar Mas saja yang bicara dengan Naira,“ sahut Mas Hangga. Membuat air mata semakin mengalir deras dan degup jantungku seakan berhenti, mendengar panggilan kepada istri barunya itu. Panggilan yang dulu pernah kuinginkan, tapi selalu dia tolak dengan alasan lebay.
Bab Populer