Membongkar misteri 'Murder on the Orient Express' selalu terasa seperti menyusun puzzle emosional. Agatha Christie merancang alur yang begitu cerdik dengan twist final yang mengejutkan: semua penumpang kereta itu terlibat dalam pembunuhan Ratchett! Ya, 12 orang bersekongkol untuk menusuk korban masing-masing satu kali, membuat luka yang sengaja tidak konsisten. Ini adalah bentuk keadilan kolektif karena Ratchett sebenarnya adalah penjahat yang lolos dari hukuman setelah menculik dan membunuh Daisy Armstrong. Poirot, sang detektif, akhirnya memilih untuk tidak mengungkap kebenaran sepenuhnya kepada polisi, membiarkan 'keadilan liar' ini tetap menjadi rahasia. Alur ini menggambarkan betapa Christie bermain dengan moralitas abu-abu—kadang pembunuhan bisa terasa 'adil' jika korban adalah monster.
Yang menarik, Christie terinspirasi oleh kasus penculikan Charles Lindbergh Jr. tahun 1932. Dia mengubah rasa frustrasi publik terhadap ketidakadilan hukum menjadi narasi fiksi yang memuaskan. Detail seperti jam yang sengaja diatur mundur oleh setiap tersangka, atau seragam kondektur yang dipakai sebagai penyamaran, menunjukkan geniusnya dalam merancang alibi yang saling menutupi. Novel ini bukan sekadar whodunit, tapi eksperimen sosial tentang bagaimana orang biasa bisa berubah menjadi algojo ketika sistem hukum gagal.