Di Antara Dua Pilihan
Suaranya kecil, tetapi mampu menghentikan segalanya.
Keenan berbalik, matanya melunak seketika, tetapi ada rasa bersalah yang amat dalam di sana.
Sementara Langit mundur satu langkah, memberi ruang tetapi tetap waspada, seperti singa yang menjaga wilayahnya.
“El, undangan udah dicetak. Tamu kita lebih dari dua ribu.” Ia menambahkan senyuman teduh.