SAHABATKU DI RUMAH MERTUA
“Khumaira, maafkan Ibu, Khuma. Semua gara-gara Ibu. Jangan seperti ini. Jangan berpisah dari Gifar, Khuma. Kamu yang bisa memahami semua tentang Gifar. Kamu istri yang baik, Khuma. Ibu yang pantas mendapatkan penderitaan, bukan Gifar, Khuma. Jangan tinggalkan anak lelakiku. Hanya kamu yang bisa mengurusnya, Khuma.”
Bulir bening membanjiri pipi yang mulai menua itu. Sorot mata yang diberikan tampak begitu sendu. Setiap perkataan yang terlontar, seakan keluar dari lubuk hati terdalam. Ya, penyesalan itu baru terucap sekarang. Setelah beribu luka ditorehkan.
Bab Populer