JANGAN GANTUNG MUKENAH DI BALIK PINTU
Bang Oar berteriak belasan kali, sementara aku yang masih jengkel dengannya malah pura-pura tuli.
“Mel! Imel!” Kala itu suaranya semakin naik oktav demi oktav sampai level dua belas. Sampai-sampai pintu itu kalau bisa ngomong pasti dia juga teriak, budek beneran baru tahu rasa kau!
Pintu yang sepertinya sudah hampir retak akhinya kubuka, dengan tampang tak berdosa aku menyambut Bang Oar sambil mengemut permen. “Oh, kamu, Bang? Kirain siapa.”