Kala Cinta Menyapa
“AYO KITA PERGI!”
Ke gua.
Semoga aku mengingat apa ucapannya tadi. Pohon meranti, ke selatan, gua kecil menghadap timur.
“Tidak … aku … hanya … akan … merepotkan … tak sanggup … bertahan….”
Tubuhnya sudah sangat lemah. Dia hanya mampu duduk terpuruk menahan semua sakit yang semakin menguasai tubuhnya. Tak tertahankan. Pandangannya semakin mengabur, kepalanya semakin sakit, perutnya semakin mual, badannya semakin menggigil, dan bekas gigitan itu—sumber malapetaka—berdenyut hebat.