Pernahkah kita memikirkan bahwa benih cinta bisa tumbuh di tanah yang awalnya terasa asing? Dalam perjodohan tradisional, mungkin tidak ada percikan api instan, tapi justru ada ruang untuk kepercayaan dan komitmen yang dibangun perlahan. Saya melihatnya seperti menanam pohon—butuh waktu untuk berakar, tapi ketika kuat, tak mudah tercabut.
Dalam budaya kita, perjodohan sering dipandang sebagai keterpaksaan. Tapi dari pengalaman teman-teman yang menjalaninya, justru karena ada 'tugas' untuk saling mengenal, mereka menjadi lebih sabar dan telaten. Beda dengan pacaran modern yang gampang menyerah saat ada masalah. Justru di sini, cinta tumbuh dari kebiasaan kecil: kebersamaan saat makan malam, saling mengingatkan sholat, atau bahkan bertengkar lalu berdamai.