POEDJAN
“Tak ingat kau pada Kartini? Jayanya perempuan pada masa itu mulai dilupakan, Deng! Saatnya kita membuat polemik yang menarik Olanda!”
Sebersit kata ‘benar’ tertuai kemudian di pikiran Dedeng. Jika polemik berarti cuan, ia akan menghalalkannya.
“Atau begini,” Amin kembali memotong pendapat Dedeng yang baru sempat ia ramu di kepala. “Kita cubakan saja sekali. Bagaimana? Entah gagal, boleh kita tarik semuanya.”
Dedeng lagi-lagi mendelik. “Sekali ... bergunakah?”
“Sangat, Deng! Sangat!”
Hot Chapters