Secangkir Teh Untuk Suamiku
Terlindung, tertahan, dan nyaris terasa tidak nyata.
Rindu berdiri di dekat tempat tidur, tangannya masih sibuk membuka kancing jas yang sudah sedikit basah. Janu memperhatikannya dari tempatnya duduk, matanya tak berkedip. Seperti seorang ilmuwan mempelajari reaksi kimia yang rumit, pelan, sabar, nyaris tanpa ekspresi. Tidak terburu-buru. Tidak lapar. Tapi jelas menginginkan.
"Kalau kamu ingin bicara, aku di sini," katanya lembut, tapi matanya menyiratkan hal lain. Sebuah undangan yang tak sepenuhnya tentang kata-kata.
الفصول الرائجة