Istri Galaknya Om CEO
, terkadang selalu menolak akses yang telah kamu rakit untuk membangun istana di bawah indahnya bayangan."
Mereka ke pesantrennya Ciara, menyaksikan seribu lebih santri berangkat sekolah malam. Setiap lewat di depan Ciara dan Haidar, tak lupa badannya membungkuk dengan raut wajah yang tak ditekuk. Ba'da maghrib, waktu di mana belum lama senja pergi, yang kemudian awan hitam mulai lekat, cahaya penerangan pun sudah tak lagi tersirat. Setiap tempat yang dititikkan dengan penuh cinta, tak mungkin ditinggalkan tanpa memberikan rindu yang merana. Ciara bersandar ke tubuh suaminya yang masih berdiri di depan parkiran, menyaksikan betapa damainya hari mereka, mulai mendengar sahutan-sahutan para sa
Bab Populer