Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Legenda Tiga Pahlawan

Legenda Tiga Pahlawan

Shirakawa yang masih mengusap pantatnya karena tendangan sebelumnya ikut mengeluh penuh dendam. “Kalaupun menulis puisi... jangan dipaksa dibacakan ke kami.” Roger mengangguk serius. “Kami juga lahir dari orang tua yang membesarkan kami dengan susah payah.” “Nasib kami memang buruk karena jadi bawahan Anda.” “Tapi memaksa kami mendengar puisi seperti tadi benar-benar keterlaluan.” “Betul!” Chang Chuan ikut menimpali. “Menindas orang juga ada batasnya!”
10702 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14 kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Rumah Tengah Hutan

Rumah Tengah Hutan

Tak terbayangkan datangnya kemari Dia lari lalu berhenti Memegang tangan merenggut hati Oh, sudikah sekiranya kau datang Atau, aku saja yang mendatangimu Katakan ‘iya’ saat ini padaku Aku akan mengejarmu Satu langkah aku menujumu Dua langkah kau menjauhiku Sepuluh langkah aku memandangmu Seratus paku kau tancapkan di hatiku Tega, kau benar sungguh tega Dengan apa aku harus mengejarmu? Bisakah kau berhenti sejenak Napasku sudah tak lagi sempurna Telah aku abdikan untukmu Oh, Malang adalah cerita hedupku “Selesai!” kata Mei setelah rampung menulis. “Aku tidak paham sama sekali.” “Masak? Padahal itu paling sederhana!”
8.99.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 328 kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Forever Hours

Forever Hours

Tak habis pikir. "Enggak pa-pa, kok. Santai aja," sahut Fira dengan senyum tipis. "Cuma ... kami tadi awalnya emang agak bingung, sih." "Jadi, itu tadi puisi kamu yang buat? Anak sastra, ya?" April meneliti, berucap setelah habis tawanya.
3.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 117 kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Dokter Sakti Penguasa Dunia

Dokter Sakti Penguasa Dunia

Suasana di lokasi langsung dipenuhi gelak tawa. Sunnata benar-benar murka hingga wajahnya merah padam. Dengan geram dia berkata, "Nazar, berhentilah berdalih." "Kamu menyamar jadi aku, lalu bersekongkol sama seorang penyair bernama Karavir menulis sekumpulan puisi omong kosong. Dia bahkan menyusun semuanya menjadi sebuah kumpulan puisi dan mengantarkannya sendiri ke Akademi Bayanaka."
9.51.1M DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34.5K kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

Perjalanan Dimensi Waktu Sang Genius

"Babak pertama berakhir!" Seiring terdengarnya kata-kata itu, banyak orang yang meletakkan kuas mereka. Sebenarnya, keempat pria tua telah membaca sekilas puisi mereka. Mereka dapat memahami puisi yang ditulis oleh semua orang. Tentu saja, mereka juga telah menentukan 20 orang yang lolos.
96.1M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 245.7K kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Tampilkan Ulasan (2659)
Baca
+Pustaka
Winda KD Fashion
Ceritanya bagus, penuh inspirasi tapi... saya tidak setuju Wira nikah lagi. Kasihan Wulan, selama 3 tahun menahan siksa dari Wira lahir dan batinnya. Walaupun dia tersiksa, dia gak mau ninggalkan Wira, dia selalu melayani dan memenuhi kebutuhan Wira. Wira jadi orang kaya, malah nambah istri lagi ...
Hasan Aunur Rofiq
saya sangat menyukai novel ini karena ceritanya sangat menarik dan pembaca dapat dengan mudah memahami isi novel ini tetapi sayangnya bab di dlm novel ini sangat pendek namun dengan kelebihan dan kekurangan tersebut novel ini tetap sangat layak untuk di baca dan terimakasih untuk pembuat novel ......
Baca Semua Ulasan
Bentala dan Nabastala

Bentala dan Nabastala

Karena di kertasnya ada rangkaian kalimat, membuat mereka tidak perlu membuat puisi sendiri. “Wah, ternyata pasangan pertama kita ini mendapat potongan puisi dari satu puisi yang sama, jadi mereka hanya perlu membacanya, menyambungkannya agar jadi satu kesatuan. Dimulai dari yang ada judulnya,” ucap Bu Sri. Boni pun mulai membaca, “Sajak Putih, karya Chairil Anwar. Bersandar pada tari warna pelangi Kau depanku bertudung sutra senja
2.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 104 kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Dalam Cengkeraman Empat Sultan

Dalam Cengkeraman Empat Sultan

ucap Pak Mahesa sambil menahan tawa. Beberapa mahasiswa lain maju untuk membacakan puisi karya mereka. Ada yang puisinya absurd. Ada yang terlalu romantis. Ada pula yang malah terdengar seperti thread galau Twitt** Sampai akhirnya— “Raka.” Suasana kelas langsung berubah heboh. “Gila, mana ada yang bisa ngalahin Raja Puisi kita.” “Ini pasti berat.” “Kalau Kak Raka bikin puisi, gue takut IQ gue kurang,” bisik Naomi sambil cekikikan nggak jelas. Berharap mendapat sedikit perhatian dari sang idola.
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 119 kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Legenda Tongkat Semesta

Legenda Tongkat Semesta

ungkap Madu Lanang membuat semua orang terkejut bukan buatan. “Apa kau bilang? Tidak mungkin!” sergah Kelenting Sari. “Benar, tidak mungkin ayah Lintang kalah, bukankah dia merupakan penguasa dari 4 makhluk,” ujar Anantari ikut tidak percaya.
1013.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 284 kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Kau yang Diantaranya

Kau yang Diantaranya

Sesuatu yang lain datang menemui mereka, entah bagaimana seolah ada lintasan energi tertentu yang saling berhubungan. "Aaarrr! Sudah disuruh diam dan tidak mengganggu, kau malah datang dan berkeliaran!" Suara berat itu terdengar marah, sosok tadi berteriak-teriak diseret oleh sosok tinggi besar yang terpanggil oleh tetua dari kantor Aiza. Mereka pergi dengan cepat namun teriakan makhluk tadi, masih dapat Aiza dengar sebelum akhirnya benar-benar menghilang.
8.55.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 153 kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Bukan Aku Orangnya

Bukan Aku Orangnya

Dan sampai saat ini semua suara itu masih menari indah dalam benakku. Dalam kesendirian aku menarik miring sudut bibirku. “Ternyata kebisingan suara tonggeret di kampung yang dulu begitu memuakkan jauh lebih tenang dibanding suara para manusia yang tak punya hati,” tuturku pada dinding yang sudah pasti tak akan bisa menanggapi. Aku nggak tahu apa hari ini aku yang terlalu sensitif atau bagaimana, tapi kata-kata mereka seolah menyudutkanku dan mengatakan kalau aku tidak becus mengurus anakku sendiri.
10482 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18 kali sebagai puisi berantai 4 orang bikin ngakak
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
8

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Aku biasanya membuka sesi puisi berantai dengan satu aturan konyol supaya semua langsung ngegas.

Pertama, atur giliran: A, B, C, D. Beri batas waktu 15–30 detik per baris supaya orang gak mikir serius. Aku sering pakai ketentuan tambahan seperti 'masing-masing baris harus mengandung satu benda rumah tangga' atau 'baris kedua wajib nge-rhyme dengan baris pertama'. Teknik yang sering bikin ngakak adalah eskalasi—setiap orang harus membuat situasi makin absurd—dan misdirection, yaitu mengarahkan pembaca ke satu harapan lalu dibalik di baris berikutnya. Gunakan juga callback: simpan satu kata aneh dari baris pertama dan panggil lagi di baris terakhir untuk ledakan tawa.

Contoh format cepat yang aku pakai: aturan A (set tema), B (tambahkan masalah konyol), C (eskalasi jadi lebih gila), D (punchline yang melingkupi semua). Tambahkan elemen performatif—suara, ekspresi, efek suara—biar lebih hidup. Percaya deh, mainnya santai, spontan, dan jangan takut gagal; seringnya yang norak itu paling lucu. Aku selalu pulang dengan perut keram karena ketawa bareng teman, dan itu yang paling berkesan.

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status