Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Cahaya Cinta di Langit Pesantren (Cinta dalam Balutan Doa 2)

Cahaya Cinta di Langit Pesantren (Cinta dalam Balutan Doa 2)

“Abang Arza, Bun. Kebetulan dia sedang libur dan Aidil memintanya ikut menemaninya. Juga dua pengurus putra sebagai pendamping para santri.” “Owalah, Bunda senang mendengarnya. Abang ‘kan sejak dulu paling suka kalau ada acara seperti ini, kebetulan banget dia libur. Sudah lama juga Abang tidak mengikuti acara ini. Ya, sejak gabung di kepolisian,” ujar Arni dengan senyum mengembang di wajah cantiknya. “Santri putri berjumlah empat anak dengan dua pendamping putri akan ikut di mobil kita,” ucap Afnan.
1017.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 660 kali sebagai puisi berantai 4 orang santri
Baca
+Pustaka
Rantai Hasrat

Rantai Hasrat

Kemudian Ayahnya bergabung lalu sebagian orang ikut berkerumun mereka. Seperti madu yang jatuh di lantai semut-semut mulai memakan madu itu, atau seperti bunga yang dihinggapi oleh kumbang dan lebah. Seperti itulah ayah dan anak itu mereka sama tampan dan memiliki segudang prestasi yang membanggakan tetapi tidak untuk Ibu Harsyat yang tidak ikut serta dalam acara yang di adakan oleh mantan suaminya. Setelah banyaknya cobaan dan derita yang di alami hingga menimbulkan korban Ibunya Harsyat akhirnya bisa keluar dalam belenggu permainan kotor Hirsyam.
5.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 127 kali sebagai puisi berantai 4 orang santri
Baca
+Pustaka
Diblokir Tetangga

Diblokir Tetangga

Lalu sahut menyahut santri putri memecah sunyi bergantian. "Aku dulu!" "Aku nomor dua!" "Aku ketiga!" Santri putri sudah biasa, menuju terbit matahari akan saling berburu kamar mandi lebih dulu. Jumlah kamar mandi yang terbatas, membuat mereka sudah terbiasa mengantri. Selain mengajarkan untuk disiplin, mengantri seperti ini membuat kedekatan antara santri satu sama lain. Juga menghargai orang lain sesuai urutan.
1011.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 220 kali sebagai puisi berantai 4 orang santri
Baca
+Pustaka
Rasa

Rasa

Malam itu, Abian tidur sedikit terlambat, dan tak tepat waktu. Hari pun, silih berganti. Setelah dua hari lamanya, tak belajar efektif seperti hari-hari yang lain, ini adalah hari ketiga setelah lomba itu dilaksanakan. Pada hari dan tanggal itu, para santri mendapat giliran untuk menghubungi orang rumahnya dengan menggunakan handphone wali kelas, dan bergiliran satu per satu. Tampak jelas, wajah-wajah yang ceria, riang, dan bersemangat. Setelah lama menyimpan kerinduan , hari itu tiba saat dimana mereka akan membayar hutang rindu tersebut walau tak secara langsung.
104.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 126 kali sebagai puisi berantai 4 orang santri
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status