Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Samaran Terakhir

Samaran Terakhir

Ia tidak berkata apa-apa, hanya tersenyum, seolah meyakinkan bahwa Kai tidak sendiri. Kai bersiap menulis. Sosok pena rusak itu mendekat, membelah langit dengan teriakan narasi paksa. Dan Kai menulis kata pertamanya: “Bebas.” Langit langsung berubah warna. Sosok pena rusak itu mulai meleleh, tulisannya berubah menjadi puing-puing puisi yang tidak selesai. Dunia baru mulai merespons. Tapi ini baru permulaan.
1.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 58 kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Menantu Terbuang Kini Hidup di Puncak Dunia

Lalu ia menarik napas panjang, meletakkan tangannya di dada, dan mulai mendeklamasikan: > “Kamu seperti nasi hangat Di pagi yang belum sempat Aku lapar, kamu kenyang Hatiku tenang, dompetku senang.” Tari mengerjap, lalu menutup mulutnya sendiri. Tapi ia tak bisa menahan lebih lama. Tawanya pecah begitu saja. “Apa itu?” katanya di antara tawa. “Apa-apaan itu?” Radit tersenyum bangga. “Itu puisi. Judulnya Sarapan Perasaan. Masih ada bait kedua kalau kamu kuat.”
1011.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 279 kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Penyesalan CEO Cantikku yang Dingin

Di atas kertas, sebuah puisi yang ditulis dengan aksara rumput liar terpampang jelas. Ketika Mardi, Haidar, dan yang lainnya kembali sadar dan membaca isi puisinya, wajah mereka perlahan memerah, dipenuhi rasa malu dan marah. [ Memuji Jarum ] [ Seratus kali tempa, jadilah sebatang jarum, ] [ Terbalik terguling, menari di atas kain. ] [ Mata seolah-olah tumbuh di bagian belakang, ]
10272.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 7.4K kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Dendam Permaisuri yang Terbuang

Dendam Permaisuri yang Terbuang

Suara lantunan kidung kembali terdengar seiring musik gamelan berbunyi semakin nyaring. Sanadyan planjeng satebeh mungkin, (Meski berlari sejauh mungkin) mboten bakal manggihaken margi wangsul. (Tidak akan menemukan jalan pulang) Kula sampun nangsuli kalih tali pati. (Aku sudah mengikat dengan tali kematian) Manuto Nduk, Cah Ayu. (Menurutlah Nduk, Cah Ayu) Ampun ngelawan, awakmu saget pejah tanpa raos sakit.
1024.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 771 kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Si Pecundang Pemilik Api Abadi

Si Pecundang Pemilik Api Abadi

sebuah getaran besar dari dalam tanah membuat semua orang bergidik ngeri!!! sebuah retakan terbuka dan... seorang muncul sambil di penuhi cahaya ilahi... Ini adalah author novel ini!!! ia membawa sebuah relik yang sangat bersinar sebuah bendera berwarna merah dan putih... orang aneh itu yang mengaku sebagai author berteriak: SELAMAT HARI KEMERDEKAAN Yang ke-79 ya teman-teman READER SEMUA!!"
102.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Selamat Malam, Tuan Ares

Selamat Malam, Tuan Ares

“Aku punya bunga merah yang mekar, seperti desahan lembut, tapi bisa juga seperti api yang membara.’ “Kita berbagi gelombang dingin, angin, cahaya, dan guntur; Kita berbagi kabut, gunung, dan pelangi. Seolah-olah kita selalu terpisah tapi saling mendampingi seumur hidup.” Tangan Jay yang terangkat di udara berhenti. Ia tertarik dengan puisi itu. Ia ingat pertama kali Angeline membaca puisi itu.
9.43.0M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 78.0K kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Tampilkan Ulasan (884)
Baca
+Pustaka
Alce Sandra Pieter
kena bonus coin berkurang sama waktu baca bertambah,dah Gito harga coin juga mahal belum lagi kena pajak?? yg coin 100 gak pernah ada disconnya,,harusnya buat cerita yg bab di atas 2000 harga buka bab 3 bab kek hehehe,maaf ya ini cuma saran aja,,lagian banyak ini apk baca yg gratisan juga ............
malapalas
BACA novel berjudul :FREL. Banyak kejutan di dalamnya. Selain tentang cinta segitiga yang bikin baper, gemes dibumbui humor dan mengharubirukan, kalian akan disuguhi dg persahabatan, keluarga, luka dan rahasia di masa lalu orangtua yang akan membuat cerita lebih seru dan menjungkirbalikkan perasaan.
Baca Semua Ulasan
Menunggu Bulan

Menunggu Bulan

sang Bayu Cukuplah engkau bersamaku Mendengarkan nyanyian pilu Dari jiwa yang terpaku Walau lelah Walau payah Takkan diriku jengah Berharap semua 'kan indah Selesai menulis Raya kembali berbaring. Perasaannya mulai kacau. Ia kembali terbayang wajah tuan muda. Sejurus kemudian pintu kamar kembali terbuka. Seorang teman dengan napas terengah memintanya bersiap dan segera keluar kamar untuk mengikuti lomba berpuisi. Raya sangat bingung, tetapi belum sempat bertanya gadis itu telah berlalu.
2.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 62 kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Misi Bertemu Cinta

Misi Bertemu Cinta

Dari yakin 'ku teguh Hati ikhlas 'ku penuh Akan karunia-Mu Tanah air pusaka Indonesia merdeka Syukur aku sembahkan Ke hadirat-Mu Tuhan Dari yakin 'ku teguh Cinta ikhlas 'ku penuh Akan jasa usaha Pahlawanku yang baka Indonesia merdeka Syukur aku hunjukkan Ke bawah duli tuan Dari yakin 'ku teguh Bakti ikhlas 'ku penuh
104.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 92 kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Mengandung Bayi Presdir Dingin

Mengandung Bayi Presdir Dingin

Keenam orang itu mengonfirmasi urutan tanggapan puitis mereka. Christopher adalah orang pertama yang membacakan puisi, bertemakan angka dua: "Rumput tumbuh, burung warbler membumbung tinggi di langit bulan Februari (2); di sepanjang tanggul, pohon willow menari dalam kabut musim semi yang memabukkan." Selanjutnya adalah Leia, yang memusatkan syairnya pada angka empat: "Teras ini memanjang empat (4) ribu delapan ratus zhang; merenungkannya membuat orang merasa cenderung mengarah ke tenggara."
3.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Si Lesung Pipi

Si Lesung Pipi

Bukan Pertanyaan apa yang bisa menggulung benang-benang terurai itu? Sajak-sajak itu terbentuk begitu saja, mengalir begitu saja keluar dari pulpen hitam yang di gerakkan oleh tangan Adam. Menari-nari di atas kertas tanpa terhambat. Dari kata awal hingga akhir semua meluncur mulus. Lega hatinya saat kata terakhir berhasil ia torehkan.
109.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 194 kali sebagai puisi berantai kemerdekaan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status