Sentuhan Adik Sahabatku
“Masih ada yang nyangkut di situ. Kalau benar ikhlas, kamu nggak akan kesal saat dengar namanya. Lepaskan saja, Jen. Dunia ini luas, banyak pria yang lebih baik.”
Jennar menghela napas panjang, suara lirih mengalir dari bibirnya, “Mungkin rasa sakitnya belum hilang, Ma... Mama tahu, berapa banyak yang aku korbankan buat dia.” Dia menatap ke depan seolah mencoba mengusir bayangan masa lalu. “Pasti sembuh. Tapi sekarang, yang tersisa cuma benci. Time will heal.”
Priska terdiam sejenak. Ada kilatan sesuatu di matanya, sebuah kenangan lama yang tak diucapkan. “Memaafkan boleh,” katanya akhirnya, pelan tapi tegas. “Tapi tidak untuk melupakan.”