Poor Fatma
Di satu sisi aku terharu, melihat betapa rasa cinta pria ini sangat kuat kepada istrinya, tetapi di sisi lain aku sedikit tersinggung karena dia sama sekali tidak bertanya perihalku.
“Iya, aku menengoknya dua kali. Dokter Yudi yang memberi tahu. Dismitis atau apa namanya, ya?” Aku mengingat-ingat.
“Distimia, Fatma. Ajeng terlalu depresi, aku ... aku khawatir dia tidak punya semangat hidup lagi.” Dokter Pandri berkata tanpa memandangku. Dia menghela napas, sejurus kemudian mengeluarkannya lewat mulut, hingga pipinya sedikit menggelembung.
Hot Chapters