Dikira Babu Ternyata Ratu
Meraih punggung suami tampanku lalu menciumnya dengan ta'zim.
"Syukurlah, jangan capek-capek ya, biar si Utun dan kamu sehat selalu." Suamiku mengelus lembut kepalaku dengan sayang.
Aku tersenyum lembut. Lagi-lagi, aku memutar netra pada wanita itu. Dia melebarkan mata dengan mulut yang sedikit terbuka.
Kuberikan tatapan tajam padanya seolah berkata, 'Setelah ini, akan aku tunjukkan padamu, siapa ratu siapa babu sebenarnya!'