Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Antara Cinta dan Dendam

Antara Cinta dan Dendam

teriak Zizara dengan nada tidak sabarnya. Wilson seolah tidak perduli. “Berisik sekali. Dia belum jadi istriku.” Wilson merasa kesal. “Aku harus rapat. Setelah selesai baru aku pulang.” Wilson langsung menutup panggilan telepon secara sepihak. “Wilson! Hei! Menyebalkan sekali!” Zizara mencak-mencak. Oma Ratri memandangi wajah Rafaela yang terlihat sendu. Meskipun seluruh organ pada tubuhnya telah kembali normal tapi ingatan yang menyakitkan tidak akan sembuh dalam waktu yang singkat.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 63 kali sebagai rumaisha
Baca
+Pustaka
RANJANG BERDARAH

RANJANG BERDARAH

Sesekali rintihan kecil dan erangan kesakitan meluncur dari mulut mungil mereka, kala telapak-telapak kaki berkulit mulus itu melindas bebatuan tajam atau trotoar panas yang terbakar teriknya matahari menjelang siang hari ini. Si kembar Rara tiba-tiba berhenti. Napasnya terengah dan putus-putus. "Kak, aku haus," lirihnya. "Iya, kita jalan juga sudah lumayan jauh, aku yakin mereka nggak akan menemukan kita di sini," timpal Riri.
3.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 128 kali sebagai rumaisha
Baca
+Pustaka
Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu

Kau Khianati Aku, Kunikahi Ayahmu

Wajahnya datar, tanpa air mata. Perlahan Reino melangkah mendekat. “Risha …?” panggilnya pelan, ragu. Irisha menoleh sekilas. Tatapannya kosong, namun ada bara yang menyala pelan di baliknya. Tanpa suara, ia kembali menunduk, jemarinya mengusap lembut pipi ibunya yang dingin. Reino menunduk, berusaha menyentuh bahu Irisha. “Sayang, aku—”
3.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 101 kali sebagai rumaisha
Baca
+Pustaka
Dead&Queen

Dead&Queen

Gio menatap Alma, suaranya tegas, “Kita tarik mundur bersama. Kau keluarkan semua yang kau punya: semua rasa takut, semua cintamu — arahkan itu ke jalur pemutusan. Jadikan itu api yang membakar jaringnya dari dalam.” Alma mengangguk, semua tenaga tersedot ke dalam satu titik. Ia menutup mata, memanggil namanya: Rian, Revan, Reina, semua yang dicintainya. Ia mengumpulkan rasa itu—bukan untuk disimpan, tapi untuk dilepaskan. Di luar, alat pengukur menjerit: “CORE INSTABILITY: CRITICAL.” Aurora meraung, suaranya berubah jadi raungan histeris “JANGAN! KAMU ADALAH NADI KAMI! JANGAN MATIKAN AKU!”
1.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 36 kali sebagai rumaisha
Baca
+Pustaka
Dendam yang Tak Terlupakan

Dendam yang Tak Terlupakan

Ia bisa membayangkan ekspresi wajah pria itu saat mengucapkan kalimat penghancur tersebut. "Aku... aku Lisa! Aku jauh lebih cantik dari Mela yang kusam itu!" teriaknya histeris. Sebuah ledakan amarah yang berasal dari rasa takut yang mendalam. Dengan tenaga yang tersisa, ia melemparkan ponselnya ke arah cermin besar di hadapannya. Bunyi retakan kaca yang memekakkan telinga memenuhi ruangan dan menciptakan pola jaring laba-laba yang rumit. Bayangannya kini terbelah menjadi kepingan tak keruan, mencerminkan jiwanya yang telah hancur. Lisa jatuh terduduk di atas karpet tebal. Tubuhnya lemas seolah seluruh tulang-tulangnya telah berubah menjadi abu.
727 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 18 kali sebagai rumaisha
Baca
+Pustaka
RUMAHKU ADALAH KAMU

RUMAHKU ADALAH KAMU

“Gimana kalau nanti aku setuju sama perjodohan yang mama tawarkan? Bisa-bisa kamu koma beneran.” “Maaf,” ujar Aira tulus. “Sebenarnya aku cuma mau beli strawberry di minimarket seberang jalan buat bujuk kamu.” “Sen, kamu masih marah sama aku soal mama, ya?” tanya Aira, matanya menatap Arsen dengan sedikit cemas. . . . ~ To Be Continue ~
10650 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14 kali sebagai rumaisha
Baca
+Pustaka
PENDEKAR PEWARIS SISTEM

PENDEKAR PEWARIS SISTEM

"Apa yang terjadi?! Kenapa Kael tiba-tiba tidak terlihat?!" Mei tersenyum tipis. "Dia tidak menghilang. Dia hanya bergerak terlalu cepat untuk mata biasa menangkapnya." Ryouma terbatuk, darah merembes dari sudut bibirnya. Dia menggertakkan gigi. "Aku tidak akan jatuh semudah ini!" Dia menghantam tanah dengan kedua tangannya. "Earthquake Pulse!"
104.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 128 kali sebagai rumaisha
Baca
+Pustaka
Kultivator Jiwa Modern

Kultivator Jiwa Modern

Bara tetap berdiri, meski lututnya gemetar keras. Mukanya memerah, urat-urat muncul di lehernya. Penjaga mengangkat kepala, suaranya pecah: “Duel… suara.” Bara mengepal tangan, giginya bergemeletuk. “Kalau itu yang kau mau… Baik.” Kael memekik, “BAHAYA, BARA! JANGAN GILA!” Risa menjerit, “KAU MATI NANTI!”
1.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 48 kali sebagai rumaisha
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status