Bocilnya Mas Duda
Berjalan masuk ke dalam rumah.
Aku tergagap, ku hapus air mata yang entah sejak kapan membasahi wajahku. Ku tarik napas pelan, menetralkan detak jantung yang memburu. Rasanya sesak, bahkan sepatah kata tak mampu ku ucapkan.
Aku menggeleng, mengusap kedua mataku dengan kasar, "Tenang Lu, gak boleh kelihatan abis nangis."