SUAMIKU MATI DI TANGANKU
ucap Jarwo dengan suara pelan dan terdengar menjijikan.
Wajah Jarwo makin beringas, matanya bulat sempurna menatap tubuhku yang menegang di tengah ruang. Sorot matanya terlihat lapar dan penuh pikiran kotor.
"Lepaskan dulu ikatanku. Setelah itu, aku akan memberikan apa yang kau mau." Entah kekuatan dari mana, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Tanpa rencana, aku melibatkan diri secara sukarela di dalam permainan Jarwo. Aku membujuk, merayu, bersikap patuh dan manut meski darah di dada rasanya bergemuruh dan naik turun.