Desah Di Kamar Sebelah
“Maaf kalau aku akan merepotkan dan menyusahkanmu, Mas. Jujur saja, mungkin aku tak bisa mengeluarkan banyak uang untuk persiapan acara kita nanti. Kamu tahu sendiri, kan, seperti apa perekonomianku sekarang?”
“Iya, aku paham, Ti. Aku tidak akan meminta apa pun darimu. Semuanya dariku dan untukmu. Jangan pernah berpikir kalau kamu memberatkan hidupku. Aku sayang sama kamu, T**i. Aku sayang.” Di ujung kalimatnya, Mas Sav terdengar terisak. Dia tiba-tiba membuatku terhenyak.
“Mas, kenapa kamu nangis?” Hatiku semakin teraduk. Mendengarnya tersedu, hatiku jadi kelabu. Apakah kata-kataku sudah menyakitinya?