Pembantu Rasa Nyonya
pintaku dengan mengambil sisir di tangannya.
Rambutnya aku sisir, dengan hati-hati aku melakukannya. Seribu kalipun aku rela melakukan ini, asal tidak kehilangan dirinya.
Senyumku mengembang dengan sendirinya, yang kucinta ada disisiku kembali. Sesekali aku peluk dan cium dia, Maharani hanya tersenyum dan terkekeh sesekali karena ulahku ini.
"Mas Suma, bolehkah aku menggunakan hijab? Aku ingin terlihat cantik hanya di hadapanmu saja," ucapnya dengan menatapku.