Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Klandestin

Klandestin

"Thanks, Tirta." Tirta mengangguk, selama tiga tahun satu kelas dengan Bestari, ia sering terkejut dengan perubahan yang terjadi pada gadis itu. Kadang kala ia melihat Bestari seperti manusia tanpa jiwa, kadang kala ia juga melihat ada kerinduan tak terucapkan. Tirta bukan menyukainya, ia hanya ingin tahu, apa yang membayangi mata Bestari sejak pertama masuk sekolah hingga kini. Siapa sosok laki-laki yang sering digumamkan namanya oleh gadis itu. Bestari sangat tertutup, bahkan tak mudah percaya. Jika dugaannya benar, Bestari menderita trust issue. Dengan Maharani yang notabennya temannya sendiri saja Bestari tertutup, apalagi dengan orang lain.
2.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Unexpected

Unexpected

Padahal makanan tersebut sebelumnya sangat ia hindari karena tidak terlalu bersahabat dengan perutnya. Felix hanya mengendikkan bahu tak acuh menanggapi ucapan Hans. “Walau jalang istimewa, ia tetap tidak berhak membuat hidupku kacau. Seistimewa apa pun posisinya, ia tetaplah hanya seorang jalang.” Lagi-lagi mulut Felix mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan pikiran dan hatinya. “Dasar munafik! Wanita yang kamu sebut-sebut sebagai jalang itulah telah berhasil mengacaukanmu. Bahkan, membuatmu sampai harus pindah tempat tinggal karena tidak kuat akan bayangan sosoknya di apartemenmu yang dulu. Dasar laki-laki munafik!” umpat batinnya.
9.838.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.3K kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
SHIELD

SHIELD

ucap pria itu pada akhirnya. Tania tersenyum sinis dan kembali menekan kakinya dengan lebih kuat. Pria itu mengeraskan rahangnya kembali menahan sakitnya injakan wanita itu. “Berani sekali ingin membuat kesepakatan denganku.” Tania melepaskan kakinya, dia menatap lalu kembali tersenyum sinis. “Kamu tahu, siapa pun yang mengenalku, mereka akan ketakutan untuk mengajukan sebuah kesepakatan. Karena aku bisa mendapatkan yang aku inginkan tanpa sebuah kesepakatan. Aku benci kesepakatan.” Tania menghujani pria itu dengan tendangannya berkali-kali. Dia berteriak meluapkan amarahnya. “Dasar bajingan.”
2.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 55 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Hoffen

Hoffen

“Iya, iya, gue percaya. Tapi lo nggak boleh menghindar darinya sebelum komik lo selesai! Adyana juga nggak akan tinggal diam, Sha.” “Adyana?” Trisha menghela napas panjang, dia benar-benar kesal setiap membaca atau mendengar namanya. “Bisa nggak, sih, jangan sebut nama dia? Pengkhianat macam dia nggak pantes jadi teman gue, Vanda.” Nada biacara wanita gemuk itu pun berubah menjadi dingin dengan tatapan tak suka.
1012.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 357 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Remorse

Remorse

Kansa berujar kencang, kemudian menutup mulutnya yang tidak memiliki sopan santun itu. “Jangan gitu, Ca. Allah gak suka,” timpal Edo masih dengan tawanya. “Kecanduan cogan sih, makanya sengklek!” Tawa Anaya pecah dengan lontaran tak berdasar itu. Entahlah rasa lelah yang sedari tadi ditanggung kini hilang dirampas kebahagiaan.
103.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 89 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Shadow Rebellion

Shadow Rebellion

Tangan kirinya memegang secangkir anggur merah, sementara tangan kanannya bermain dengan cincin perak di jarinya. “Kita tidak perlu melakukan apa-apa,” katanya dengan suara rendah, hampir berbisik, namun penuh dengan keyakinan. “Lihat bagaimana mereka menghancurkan diri sendiri.” Sebuah tawa kecil terdengar dari sudut ruangan yang lain. Seorang wanita dengan rambut hitam panjang, mengenakan mantel hitam panjang, melangkah mendekat. “Manusia memang selalu menjadi musuh terburuk bagi diri mereka sendiri,” katanya sambil menatap layar yang menampilkan Rey dan Sophia berjalan menjauh dari Alan. “Semakin kita mendorong mereka, semakin dalam retakan itu terbentuk.”
1.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 27 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Exit

Exit

Aku tidak menginginkan itu, terlebih April yang mengetahui semua seluk beluknya. Detik selanjutnya baru berjarak empat langkah, satu anak yang berdiri di tralis pembatas menolehkan kepala cepat, menatap aku, April, dan Laura. Sepertinya ia menggunakan indra ke enam, bagaimana mungkin bisa sepeka itu. Diikuti beberapa kepala di sisinya yang ikut menoleh. Ayolah, aku benar-benar tegang. Ini sudah seperti adegan cerita zombie saja, ibaratkan aku, April, dan Laura adalah manusia normal yang datang mendekati kawanan zombie. Mencium aura kami, mereka langsung saja memutar kepala, menatap seakan kami santapan paling sedap, siap menerkam. “Woi itu April.” Satu anak pertama yang melihat kami tadi sek
102.6K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Penyesalan

Penyesalan

Ditunjang oleh status ekonomi yang lebih dari kata memadai, ia menjadi magnet yang menarik orang untuk lebih dekat dengannya, meskipun dengan motif tertentu. Aura berbeda. Ia adalah seorang kutu buku. Aura lebih menyukai mengurung diri di kamar dengan buku-bukunya, dibanding harus pergi keluar rumah. Tidak heran bila ia selalu mendapat peringkat pertama di kelasnya. Ia sama sekali tidak berminat mengikuti jejak kakaknya, meskipun ia juga memiliki paras tak kalah cantik dari sang kakak. Begitupun suara merdunya. "Sya, handphone lu bunyi terus, tuh," ujar Ridwan, penggebuk drum yang duduk persis di samping tas Alisya.
105.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 205 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Kesendirian

Kesendirian

“Tanya apa, pak?” “Nak, kenapa hari-hari ini terlihat murung sekali?” “Murung?? Saya kelihatan nampak murung ya, pak?” “Enggak ada masalah, pak. Saya hanya termenung sebentar saja.” “Yakin? Nak, tidak ada masalah?" Merenung berlama-lama tidak baik, nak!"
102.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 76 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Mate

Mate

tanyaku tiba-tiba mellow. Mas Wira menoleh dan menatapku. “Mungkin.” Aku menghela napas kecewa. “Sudah kuduga.” “Kamu ini kenapa kok kayak insecure banget sih?” Aku menunduk sedih. “Aku tuh sedih banget sering dikatain ‘Fita itu cantik tapi nggak sexy’, ‘Fita itu hampir sempurna tapi dadanya rata’, ‘Fita itu kayak bocah banget’.”
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 80 kali sebagai shunned
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
12345
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status