DIA AYAHKU
Ibu diam, tak berkata apapun sambil melempar ember yang baru saja dia gunakan.
Aku segera tersadar, lalu melihat sekilas wajah Ayah yang merah menahan air mata.
"Kalau ingin menangis, menangis saja, Yah. Kehidupan kita memang pantas untuk di tangisi." Aku membereng ke arah Dara, kemudian pergi meninggalkan tempat kejadian.