Exit
Awas saja nanti, akan kutarik pita suaramu agar tidak bisa menyanyi lagi.
Demi melihat wajah bingung campur kesalku, Laura mulai menceritakan awal kenapa ia bisa oleng, menabrak meja ku, dan menyenggol lengan, menumpahkan tea jus yang belum sempat masuk ke kekerongkongan yang dehidrasi ini. Selagi Laura berdongeng, aku yang mendengarkan dengan raut muka betapa bodohnya diriku. Suara kegaduhan di luar sana berangsur tidak terdengar lagi, bentakan hebat memekakan gendang telinga itu sudah tidak ada, tapi aku belum mendengar langkah sepatu hak hitam standar April yang memasuki toilet. Untuk kesekian kali, aku melihat ketrampilan April yang bisa berlari ke luar kantin dengan sepatu hak standart,
Hot Chapters