Hasrat Seorang Ipar
Mas Wisnu tampak mengangguk pada perempuan yang masih berdiri di ambang pintu tersebut.
“Mbak Septi, mari ke ruang tengah. Saya perlihatkan model produk kami.” Aku mengajaknya untuk ke ruang studio kerja kami, tempat lima lemari kaca besar berada. Masing-masing lemari berisi pakaian-pakaian siap jual yang beberapa tergantung dan sebagian besar lainnya sudah rapi tertata dalam plastik.
“Wow, banyak banget, ya, barangnya? Nggak buka butik sekalian, Mbak Rahayu?” Perempuan itu terpana saat melihat deretan gamis-gamis dengan aneka warna dan model.