Mari Bercerai, Paman Kai!
Susah payah dia menelan Saliva yang seharusnya mampu menerobos tenggorokannya dengan mudah.
Tak cukup hanya itu saja, nafasnya pun terasa sesak, dadanya harus dipukul untuk melancarkan sirkulasi udara di paru-paru.
Diani benar-benar telah kehilangan separuh nafas dan separuh jiwanya.
"Ibu ...," lirih Kai. Tubuh itu kembali disambar, dipeluk dengan hangat dan erat.
"Kita cukup doakan Papa, ya," tutur Diani. Tangannya mengusap rambut Kai. "Papa harus tahu, kalau kita disini juga hidup dengan tenang, tapi jangan pernah lupain Papa."
Hot Chapters