Rayuan Maut Para Tetanggaku
Ia tertegun melihat adegan di depan pintuku.
"Ya ampun! Mas Bima ini memang magnet wanita ya," Mbak Susi tertawa renyah, meski matanya menatap Laras dengan sengit. "Laras, jangan dimonopoli dong. Mas Bima ini butuh istirahat, atau mungkin butuh pijatan yang lebih... 'berpengalaman' dariku?"
Mbak Susi mendekat, ikut meraba lenganku. "Sini Mas, masuk ke tempat Mbak saja kalau Laras terlalu berisik. Mbak baru saja buat jahe hangat, enak buat stamina."