MENANTU IMPIAN IBU
Ia membisikkan di telinga Dini, "Kita pulang. Di sana ada kamar warna salem kesukaanmu, taman kecil, dan cermin seperti yang kamu suka."
Dini tersenyum. "Aziel, kamu baik."
Bu Astri menahan napas. Seulas air mata mengalir tanpa izin.
Dari arah dapur, ibu-ibu mulai memanggil-manggil. "Bu Astri, makanannya udah siap disajiin?"
Fahmi melangkah ke depan. "Kalau gitu, Ustaz, kita mulai saja ya."
Astri tak menjawab. Ia hanya menatap jalan depan rumah. Tak ada tanda-tanda mobil yang ditunggu. Tak ada suara mesin mendekat.
Hot Chapters