Bastard Sister
Aku mengusap air mata, tapi tangisanku malah semakin banjir.
“Eh, jangan nangis, dong. Kenapa harus nangis? Kamu nggak senang?”
Aku menggelengkan kepala. “Nggak, aku senang, kok. Cuma … terharu.”
Tangan kiri Lintang mendarat ke puncak kepalaku. Mengusapnya beberapa kali, kemudian kembali memegang setir dengan penuh konsentrasi.
“Cup, cup. Udah, tenang, ya. Jangan nangis. Ini udah mau sampai. Nanti adikmu nanya lagi kamu diapain sama aku sampai nangis begitu.”
Hot Chapters