Malam Pertama Sang Istri Kontrak
Jendra membuka laptop retaknya, layar berkedip menampilkan log jaringan, deretan angka dan kode berlari cepat, “Paling lama dua puluh empat jam. Setelah itu mereka bisa keluarkan salinan dari pusat cadangan.”
Arka menelan ludah, rasa logam memenuhi mulutnya, tangan kanannya mengepal sampai buku-buku jarinya memutih, “Itu berarti malam ini kita belum menang, kita hanya menunda eksekusi.” Jendra menutup mata sejenak, tubuhnya gemetar, “Kalau pusat cadangan itu tidak dihancurkan, besok pagi dunia melihat kita sebagai dalang. Semua kerja keras hilang.” Arka menunduk, keringat bercampur darah menetes dari dagunya, ia merasakan kemarahan mendidih dalam dadanya, rasa sakit di tubuh tak ada artinya
الفصول الرائجة