Air Mata di Antara Bunga
Sarah yang melihat kegelisahan Rangga berucap lembut, “Wanita paling mengerti wanita. Rangga, masalah sebesar apa pun, kalau suami sendiri yang membujuk, pasti akan reda. Cepatlah pulang, jangan sampai melewatkan jam keberuntungan.”
Kata-kata itu menohok hati Rangga. Tanpa pikir panjang, dia pun segera kembali.
Namun, begitu sampai rumah, yang ditemuinya hanyalah kehampaan. Sunyi, kosong, tanpa jejak. Dia mencari ke setiap sudut, tapi Vanya sama sekali tak terlihat. Bahkan secuil pesan pun tak ditinggalkan.
Saat itu, Galih datang menghampiri, menepuk bahunya.