Here are 12 novels related to tate no yusha for you to read online. Generally, tate no yusha or similar novel stories can be found in various book genres such as Romansa, Rumah Tangga and Young Adult. Start your reading from ANATASYA at GoodNovel!
tanya Aurel kepada Rendra.
"Baru pulang. Lo?"
"Biasalah." jawab Aurel, gadis itu tersenyum manis.
Rendra hanya mengangguk.
Aurelia Rafasya, gadis cantik yang memiliki lesung Pipit di pipi sebelah kanan. Gadis keturunan bule ini teman dekatnya Rendra di sekolah lamanya. Mereka sangat dekat, sampai-sampai ada yang beranggapan kalo mereka menjalin hubungan. Padahal tidak. Mungkin hanya Rendra yang tidak menganggap lebih hubungan dirinya dengan Aurel. Tapi Aurel yang berharap lebih kepada Rendra.
tanya ibunya setengah mengejek Hayu.
“Bu, Hayu itu Jojoba, Jomblo-jomblo bahagia, Bu, maafkan Hayu, jojoba ini, sudah mendapatkan panggilan dari big bos, mamanya Candra. Jadi Hayu tidak bisa menolak,” tutur Hayu pada ibunya.
tanya Teala.
Tanpa kata, Jenan menyerahkan kertas yang dirematnya sedari tadi, membuat Teala degan cekatan mengambil kertas tersebut dan terkejut bukan main.
Aku tidak bisa menikahimu, aku pergi.
Hanya ada satu kalimat di sana, tapi menjelaskan bahwa Yasha kabur dari acaranya sendiri.
Kata Bunda Elsya.
Bibir Elsya mengerucut. Dia mengarahkan tinju ke arah ku yang kusambut dengan tatapan takut yang dibuat buat. “Tante ini udah besar masih aja suka goda-goda anak kecil.” Perkataan gadis kecil itu sukses membuat semua yang ada di meja makan tertawa. Elzyo yang duduk di sebelah adiknya hanya menepuk nepuk punggung Elsya ringan. Ia mengambil satu potong salmon dan menaruhnya di piring Elsya. Melihat salmon yang ada di piringnya, Elsya tidak mau meladeni tantenya dan mulai menekuri salmonnya. Salmon. Makanan kesukaan keluarga Gitraja.
jawabnya.
Bi Asih pun kembali meninggalkan Zafira seorang diri di pelataran rumah mereka yang berada di areal perkebunan teh. Paman Edy dan Bi Asih terlihat sudah sepuh, namun pasangan suami istri itu tak penah dikaruniai seorang anak. Meskipun begitu, mereka berdua selalu kelihatan tetap saling menyayangi. Sungguh sebuah hubungan yang membua Zafira selalu merasa kagum, selain hubungan antara Ayah dan Ibuku. Ayah dan Ibunya pun dulunya hampir saja sama seperti mereka, tidak mempunyai keturunan.
tanya Ivona menatap Yoshiro.
"Bukankah Medusa? Nona Yuri pernah menceritakan tentang tatonya beberapa hari lalu," jawab Yoshiro dengan muka polos.
Yuri menghela nafas panjang. Merasa lega. Karena Yoshiro memberikan jawaban yang benar dan aman. Tato yang ada pada bagian paha Yuri memanglah gambar Medusa. Dan Yoshiro bisa menutupi kejadian malam itu dengan merangkai kata seakan-akan laki-laki itu mengetahui hal itu dari sebuah cerita. Bukan melihat langsung.
Dia tersenyum sumringah kepadaku, Tata ia berhenti di hadapanku.
“Aku belum baca diary kamu.” Gumamnya tersenyum.
“Tadi malam kamu kemana aja, aku cariin gak ada. Apa kamu lupa kalo janji kita baca diary aku pada malam terakhir ujian. Kenapa kamu lupa?” Gumamku yang menatap tajam kedua manik mata Tata.
“Aku bukannya lupa, tapi ada urusan penting yang harus aku selesain.” Gumam Tata merasa bersalah.
tanya Hyang Yuda penasaran karena merasa belum pernah melihat wajah tamu itu sebelumnya di Anatapura.
“Mahisa Taruna, Putra Mahisa Anabrang. . .”
Spontan. . . Hyang Yuda menolehkan kepalanya melihat wajah Mahisa Taruna yang telah berjalan beberapa langkah setelah melewati dirinya. Hyang Yuda berusaha melihat dengan jelas wajah dari Mahisa Taruna yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan ayahnya, Mahisa Anabrang.
Dalam waktu sejenak itu. Hyang Yuda kemudian mengingat ucapan Rangga kepadanya mengenai desas – desus yang beredar.
tanya Naya.
"Aku direktur di perusahaan KTA collection." ucap Yash.
"Oke, begini aku punya anak namanya Zoya dia empat tahun, bisakah kamu sayang pada anak ku?" tanya Naya.
Yash menatap pada Alya yang saat ini juga menatap padanya.
"Sayang apa ini ide yang bagus?" tanya Yash.
"Ya, lakukan saja." sahut Alya.
"Tergantung, aku tidak terlalu suka pada anak anak." jawab Yash jujur.
ucap Tisha berulang kali.
“Aku boleh masuk tidak?” tanya Yura
Tisha terdiam sebentar kemudian sedikit menunduk sambil melotot menatap Yura.
“Tidak boleh, tidak boleh, tidak boleh,” jawab Tisha
“Aku gak akan kasih tau siapa siapa. Kan bunda lagi pergi. Aku pintar jaga rahasia loh,” rayu Yura.