Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
SEQUOIA

SEQUOIA

"Kalo gue minta ketemu Kekeyi?" Baskara mengangguk pasti. Kecil. "Kalo gue minta anak kangguru?" Baskara mengangguk, lagi. Terpatri jelas senyuman kebanggaan dengan sombongnya. "Kalo mercedes benz?" Ia tetap mengangguk, seolah semua yang dikatakan Joita hanyalah masalah kecil yang tak lebih dari kotoran kuku. "Alah, tipu-tipu lo!" Ia mengibaskan tangan, mengusir kehaluannya yang ingin ternak kangguru.
7.52.9K viewsOngoingAdded to Library 93 Times as teduh
Read
+Library
LETUP

LETUP

“Gue tuh, males ngerjain soalnya udah nggak punya temen ngerjain bareng. Kalo ada temennya, siapa tahu bisa terpacu.” Alasan, dengkus Kaila dalam hati. Mengingat ia baru saja meminta maaf atas setiap celotehan ketusnya, ia memutuskan untuk tidak menyuarakan pemikiran barusan. Tapi, bola matanya tetap mengerling malas kala ia mendengkus tidak suka. “Terus maksudnya gue harus ngapain?” tantang Kaila. Ia benci pembicaraan bertele-tele yang dibalut kemanisan palsu serta basa-basi sampah. “To the point aja, buruan.”
2.7K viewsOngoingAdded to Library 108 Times as teduh
Read
+Library
Mate

Mate

Intan Pitalokamatchedaneelprend
Mas Wira menatapku yang sedang mendongak. “Teduh?” tanya Mas Wira masih menatapku. Aku mengangguk. Jelas saja teduh. Postur tubuh Mas Wira yang tinggi dan berukuran lebih dari dua kali lipat dariku tentu saja melindungi tubuh mungilku dari pantulan sinar matahari. Cekrek! Hafiz memotret kami berdua yang masih saling menatap satu sama lain. “Memang kita nggak perlu mengeluh atas fisik kita, karena percayalah akan ada yang sangat berterima kasih atas lahirnya kita seperti ini.”
103.9K viewsOngoingAdded to Library 133 Times as teduh
Read
+Library
TEH ... AKU DI SINI

TEH ... AKU DI SINI

Seorang lelaki tua membawa tas plastik di punggung sambil memegang tempurung kelapa menoleh pada Clara dan membantunya berdiri. ”Sore-sore kok di kebun, Teh. Bahaya, banyak ular.” Clara menghela napas, kali ini ia merasa sedikit lega karena bertemu manusia. ”Tetehnya tinggal di mana?” Logat Sunda begitu kental dari kakek yang Clara temui. ”Kek, boleh antarkan saya ke villa dekat air mancur? Saya tersesat, dari tadi cuma keliling di tempat yang sama terus.”
106.0K viewsCompletedAdded to Library 180 Times as teduh
Read
+Library
Reuni

Reuni

Keringat dingin seketika itu mengucur dan darah pun terasa naik ke ubun-ubun, Mahira menjadi sangat geram, namun meskipun begitu dia tak berani berbuat apa-apa karena bisa dipastikan akan timbul pertengkaran besar jika Mahira berani mengusik perihal chat itu. "Kenapa mainan Hp terus, sudah istirahat lah yank....", Tiba-tiba Dimas terbangun dan menyeru sembari merangkul pinggang Mahira menuju ke pelukannya, dia nampak seperti pria yang tidak berdosa nampak santai bahkan saat Mahira tunjukkan chat itu padanya pun dia menjawab tipis
2.9K viewsOngoingAdded to Library 81 Times as teduh
Read
+Library
Utari

Utari

tanya Edo sambil mengeluarkan permen kapas dari tasnya. "Apa itu tuan?" tanya Utari. "Ini namanya permen kapas, rasanya manis.." jawab Edo."Ambillah, aku sengaja belikan ini buat kamu.." jelas Edo. "Untuk aku tuan?" tanya Utari menegaskan. "Iya buat kamu..ambil..." ucap Edo sambil mengepalkan batang permen kapas itu pada Utari."Apa kau belum pernah beli permen kapas?" tanya Edo penasaran.
2.1K viewsOngoingAdded to Library 70 Times as teduh
Read
+Library
YOU

YOU

Gabriel yang menyadari kehadiran Aluna pun tersenyum hangat, baru mereka berdua penghuni kelas PE 2 yang sudah hadir. "Nyusu mulu lu tiap hari, heran amat gua mah ama lu ukhti, tiap pagi nyusu mulu, mana dua kotak lagi sekali minum, anak sapi lu yak minum susu sapi tiap hari." Gabriel berujar sebelum kembali menyuapkan sesendok bekal nasinya. Aluna pun tertawa mendengar ucapan salah satu teman sekelasnya, "Kan biar sehat tiap hari minumnya susu, biar kayak orang-orang bule yang sarapannya susu."
2.4K viewsOngoingAdded to Library 91 Times as teduh
Read
+Library
Titip

Titip

Harusnya dia menjelaskan saja. “Sini.” Dia menarik tanganku untuk duduk mengikutinya. Aku menepis tangan itu dan duduk di ujung tikar, menjaga jarak sejauh yang aku bisa, sambil waspada. “Mau dibuatin teh lagi? Masih mual?” Seperti tidak merasa bersalah, Bang Sam membuka kompor portabel, melepas pengamannya, dan menuangkan air mineral yang kami bawa ke dalam ceret kecil, yang barangkali hanya cukup untuk membuat dua gelas teh atau kopi saja.
107.8K viewsOngoingAdded to Library 156 Times as teduh
Read
+Library
PREV
123
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status